Puisi Priangan Si Jelita – Ramadhan K H
Berikut ini adalah puisi karya Ramadhan K H Dengan judul PrianganSi Jelita. Puisi ini bertemakan tentang keindahan alam, gadis-gadis , bukit dan gunung di daerah priangan. Semoga Puisi Priangan Si Jelita ini, menginspirasikan kita semua.
Priangan Si Jelita
Seruling berkawan pantun,
Tangiskan derita orang priangan,
Selendang merah, merah darah
Menurun di Cikapundung.
Bandung, dasar di danau
Lari bertumpuk di bukit-bukit.
Seruling menyendiri di tepi-tepi
Tangiskan keris hilang di sumur
Melati putih, putih hati,
Hilang kekasih dikata gugur.
Bandung, dasar di danau
Derita memantul di kulit-kulit.
Karya: Ramadhan K H
Kumpulan puisi sastrawan Indonesia, baik puisi chairil anwar, w s rendra, kumpulan puisi Ramadhan KH dan lain-lain.
Jumat, 23 Oktober 2009
Sabtu, 10 Oktober 2009
Puisi Sungai Musi – Slamet Sukirnanto
Puisi dengan judul Sungai Musi karangan Slamet Sukirnato, bertemakan tentang Sungai Musi yang ada di Palembang.
Sungai Musi
Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!
Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!
Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!
Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!
Karya: Slamet Sukirnanto
Sungai Musi
Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!
Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!
Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!
Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!
Karya: Slamet Sukirnanto
Senin, 14 September 2009
Puisi Sorga – Chairil Anwar
Sorga
Seperti Ibu + Nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu.
Tapi ada suara menimbang dalam diriku
Nekad mencemooh: bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya
Yati?
By: Chairil Anwar (1974)
Seperti Ibu + Nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu.
Tapi ada suara menimbang dalam diriku
Nekad mencemooh: bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya
Yati?
By: Chairil Anwar (1974)
Puisi Sajak Burung-burung Kondor – W S Rendra
Sajak Burung-Burung Kondor
Angin gunung turun merembes kehutan,
Lalu bertiup di atas pemukiman kali yang luas,
Dan akhirnya berubah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
Melihat jejak-jejak sedih para petani buruh
Yang terpacak di atas tanah gembur
Namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani-buruh bekerja,
Berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
Menanam bibit di tanah subur,
Memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
Namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
Yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
Yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapat,
Para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
Dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
Dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
Rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
Menggapai-gapai
Menoleh kekiri, menoleh kekanan,
Di dalam usaha tak menentu,
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan dimalam hari mereka terpelanting ke lantai.
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
Berjuta-juta burung kondor,
Bergerak menuju kegunung tinggi,
Dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
Mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ketempat-tempat yang sepi.
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu
Mematuki batu-batu, mematuki udara,
Dan dikota orang-orang bersiap menembaknya.
By: W.S RENDRA
Angin gunung turun merembes kehutan,
Lalu bertiup di atas pemukiman kali yang luas,
Dan akhirnya berubah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
Melihat jejak-jejak sedih para petani buruh
Yang terpacak di atas tanah gembur
Namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani-buruh bekerja,
Berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
Menanam bibit di tanah subur,
Memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
Namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
Yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
Yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapat,
Para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
Dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
Dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
Rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
Menggapai-gapai
Menoleh kekiri, menoleh kekanan,
Di dalam usaha tak menentu,
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan dimalam hari mereka terpelanting ke lantai.
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
Berjuta-juta burung kondor,
Bergerak menuju kegunung tinggi,
Dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
Mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ketempat-tempat yang sepi.
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu
Mematuki batu-batu, mematuki udara,
Dan dikota orang-orang bersiap menembaknya.
By: W.S RENDRA
Senin, 07 September 2009
Puisi Layang-layang Miliku – Slamet Sukirnanto
Layang-layang Milikku
Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?
Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.
Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.
By: Slamet Sukirnanto, 1966
Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?
Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.
Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.
By: Slamet Sukirnanto, 1966
Puisi Catatan Harian Seorang Demonstran – Slamet Sukirnanto
Catatan Harian Seorang Demonstran
Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.
Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku
Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?
Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.
By: Slamet Sukirnanto, 1966
Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.
Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku
Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?
Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.
By: Slamet Sukirnanto, 1966
Kamis, 03 September 2009
Puisi Tanah Kelahiran – Ramadhan K H
Puisi dengan Judul Tanah Kelahiran karya Ramadhan K.H bertemakan tentang kerinduan terhadap kampung halaman:
Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanperahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut dihati gadis menurun.
Karya : Ramadhan K.H
Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanperahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut dihati gadis menurun.
Karya : Ramadhan K.H
Puisi Gadis Peminta-minta – Toto Sudarto Bahtiar
Berikut ini adalah puisi karya Toto Sudarto Bachtiar dengan judul Gadis Peminta-minta. Semoga puisi Gadis Peminta-minta ini, menginspirasikan kita semua:
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.
Karya : Toto Sudarto Bachtiar, 1950
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.
Karya : Toto Sudarto Bachtiar, 1950
Rabu, 02 September 2009
Puisi Aku - Chairil Anwar
Berikut ini adalah puisi dari Chairil Anwar dengan judul Aku.
Aku
Kalau sampai waktu ku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
By : Chairil Anwar, 1946
Aku
Kalau sampai waktu ku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
By : Chairil Anwar, 1946
Langganan:
Postingan (Atom)